kmntb

Menelaah Problem dan Gejala Prilaku Tunasusila

Ilustrasi Tuna Susila dari Grid.id

 

لقد خلقنا الإنسان فى أحسن تقويم   ۞ ثم رددناه أسفل سافلين

Dua ayat diatas berbicara tentang keadaan manusia, kondisi dimana posisinya sebagai sebaik-baik makhluk yang diciptakan Allah SWT di muka bumi dan bisa juga sebaliknya. Penjelasan tersebut kiranya cukup banyak dapat kita temukan dalam al-Qur’an, yang secara eksplisit maupun implisit tersebar di antara beberapa firman-Nya. Mulai dari keutamaan ilmu, seperti yang dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 31-33, keutamaan sebagai khalifah  dalam surat al-Baqarah ayat 30 dan keutamaan akal yang sempurna, seperti dalam surat as-Syams ayat 7-10.  Yang dari semua anugerah itu, nampaknya perlu ditelaah kembali fungsinya agar dapat menjaga manusia dari beberapa dampak buruk yang mengintai, salah satunya yang sesuai dalam konteks kali ini adalah akal.

Sehingga jika dapat dipahami, disinilah  agaknya letak keistimewaan akal manusia bisa menjadi solusi. sebuah anugerah yang merupakan unsur istimewa pada diri manusia memiliki andil hebat dalam perannya. Dengan mengotimalisasi penggunaan akal sebaik mungkin, manusia bisa menekan dan men-tarbiah nafsunya sehingga selaras dengan tuntunan Islam, hingga gelar manusia sebagai ahsanu at-taqwim  yang diharapkan Allah pada hamba-Nya akan bisa terealisasi. Di sinilah kita dapat sedikit memahami alasan mengapa Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada manusia (Nabi Adam As) menjadi cukup dimengerti, lantaran tersimpan beberapa keutamaan manusia yang tidak dimiliki makhluk lain.

Dari pengutamaan Allah tersebut, mestinya tidak mebuat manusia menjadi merasa di titik tertinggi dulu, karena jika ayat di atas diteruskan ke ayat setelahnya, maka manusia Seharusnya akan lebih berhati-hati, sebab jika tidak maka akan mungkin terjerumus pada kategori Asfala as-safiliin, yang dalam ayat lain bahkan menggunakan diksi “mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi”.

Inilah kesempurnaan penciptaan manusia, memiliki potensi menarik untuk bisa ‘berada di atas dan juga di bawah’. Potensi itu agaknya jika diperhatikan,  berisyarat tentang penciptaan manusia yang mulia, dan sudah seharusnya patut dijaga. Lantas apakah kita tega menghinakan diri sendiri, sedangkan hakikat penciptaan kita adalah mulia? Tentunya bagi para pengguna akal yang baik dan terdidik, akan menjawab tidak, sehinga akan tetap berusaha bertahan dalam hakikat kemulian penciptaannya. Namun ada saja orang yang teledor akan hal itu, salah satunya adalah mereka yang sedang terjerumus hawa nafsu. Mereka kemungkinan tidak  sadar atau pun tidak acuh akan akibat dari perbuatan mereka tersebut, bahkan kadangkala merasa benar sehingga mencoba bersembunyi dengan dalih “sing penting wenak” (yang penting enak), dengan alasan bahwa hidup itu harusnya dinikmati saja, dan jangan diambil pusing. Memang pada dasarnya, mungkin nafsu itu selalu saja enak, namun sering tidak disadari juga memiliki dampak yang bukan saja tidak enak, tapi bahkan buruk bagi hidup kita. Sehingga tidak heran para penyair Arab berusaha menggambarkannya dalam syair

 

كم حسنت للمرء قاطلتا من حيث  لم يدري أن سم في الدسم

“Berapa banyak sesuatu yang lezat namun mematikan manusia, karena di dalam (lezatnya) terdapat lemak (racun) yang tidak kamu ketahui.”

 

Begitulah nafsu, namun perlu diketahui nafsu juga adalah bagian dari salah satu perangkat manusia sejak dilahirkan, keberadaannya menjadi ujian bagi manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an, “sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (QS. Yusuf;53). Terlepas dari adanya pembagian nafsu tersebut, tetap saja nafsu dapat dikategorikan  sebagai salah satu faktor aktif yang bisa menjatuhkan derajat kemulian manusia dan menggiringnya kepada serendah-rendahnya keadaan. Nau’uzdubillah

 

Ketika nafsu mulai liar tidak terkendali, kemudian menguasai pikiran dan tubuh manusia, maka ia akan serta merta mengarahkannya pada keburukan. Dari situ kita dapat melihat, bahwa ini salah satu dampaknya, yang pada akhirnya mendorong untuk menghalalkan segala cara agar memenuhi hasrat nafsu tersebut. Sehingga dari sini timbullah kasus-kasus yang dipahami sebagai asusila—kasus yang tidak bermoral/tunasusila— seperti; beberapa perkara pelecehan, diskriminasi, penganiayaan dan tindakan-tindakan yang tidak manusiawi dan berbudi pekerti lainnya.

Tindakan asusila merupakan kejahatan fatal, dan sudah sangat masyhur di kalangan masyarakat desa hingga kota. Pelaku tindakan asusila sendiri kurang lebihnya mengetahui bahwa itu merupakan perbuatan keji dan kotor, bahkan mereka agaknya sudah tahu resiko dari perbuatan tersebut, namun terhalang pemikiran yang sempit dan terbatas. Sehingga mengetahui saja tidaklah cukup menekan ketidakpuasan nafsu tersebut.

Sudah berapa banyak orang menjadi korban, untuk memenuhi hasrat nafsu semata. Hingga melupakan nalar logika tentang buruknya asusila yang juga menghancurkan Hak Asasi Manusia (HAM), serta melanggar norma agama, bahkan skala besarnya bisa sampai merusak kedamaian dan keharmonisan masyarakat  di dunia. Semua itu bisa terjadi hanya karena buruknya dari pengendaliannafsu  semata, seluruh perbuatan akhirnya  berani dikerjakan tanpa kontrol dari akal yang berujung pada kerusakan dan tindak asusila yang destruktif.

 Kita ambil contoh, tindak asusila yang baru baru ini ramai terjadi dan menimpa salah seorang Masisir oleh guru ngajinya. Jika pelakunya adalah orang gila mungkin bisa dimaklumi, mengingat tidak berfungsinya akal

mereka. Namun nyatanya pelaku-pelaku asusila biasanya justru adalah orang yang berakal, tahu bahwa itu salah. Bahkan tidak jarang juga orang berpendidikan, yang pernah mengenyam bangku sekolah, ber-title sarjana bahkan ada juga yang dianggap sebagai seorang ustzad menjadi pelaku. Lantas sebenarnya apa yang ada dipikiran mereka? tidakkah mereka berpikir dampak dan resiko bagi diri sendiri dan korban? tidakkah mereka berfikir jika korban tindakan ini adalah keluarga dan sanak saudaranya?

Jika kita mau belajar sedikit, dan mengambil hikmah dari sebuah kisah tentang seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah SAW, lalu meminta izin untuk berzina sembari berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berzina”. Seketika para sahabat geram mendengar perkataan pemuda tersebut, yang nyatanya di sisi lain ditanggapi berbeda oleh Rasulullah dengan ketenangan sambil memberikan pertanyaan dengan mengiaskannya kepada orang-orang tersayang. “Apakah kamu rela jika ibumu yang dizinahi?” Pemuda itu pun menjawab, “Demi Allah, tentu saja aku tidak rela”, lalu Rasulullah berkata “Begitu juga orang lain, mereka tidak rela jika ibunya dizinahi (olehmu)”, Rasul kembali bertanya “Apakah kamu rela jika anak perempuanmu yang dizinahi orang lain?” Pemuda itu pun menjawab “Demi Allah, tentu saja aku tidak rela” Lalu Rasulullah lagi berkata “Begitu juga orang lain, mereka tidak rela jika anak perempuannya dizinahi (olehmu)”. Rasulullah SAW terus bertanya dengan permisalan korban dari saudari dan bibi pemuda tersebut, dan jawaban dari pemuda tersebut tetap sama. Sampai akhirnya rasulullah SAW mengusap kepala pemuda tersebut dan mendo’akannya.

Dari kisah ini dapat kita petik hikmah bahwa dampak dari tindakan-tindakan asusila seperti ini tidak hanya untuk korban, melainkan pada pelakunya juga.  Di antara dampak bagi korban tentu banyak sekali, seperti trauma fisik, mental, depresi, stress, minder,   bahkan bisa gila, dan begitu pun sebaliknya. Sehingga perkara ini mestinya lebih direnungi dan diwaspadai lagi dengan lebih mengoptimalkan akal pikiran  jernih yang kita miliki.

Maka dari sini, dibutuhkan penyeimbang dengan tarbiatul an-nafs. Tanpanya, akal akan kalah dengan nafsu, karena nafsu adalah faktor hilangnya derajat kemuliaan manusia, bahkan nafsu juga sebagai musuh utama manusia yang harus diperangi dengan cara  riyadhatul an-nafs dan tarbiyah. Inilah sebab mengapa Imam Ghozali memaksudkan  jihadul an-nafs sebagai jihadul al-akbar. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Al-mujahid man jaahada nafsahu wa hawahu” (mujahid adalah yang berjihad melawan diri dan hawa nafsunya). Wabakdu, nafsu tidak akan pernah puas, selalu merasa kurang dan ingin lebih, maka kewajiban kita sebagai manusia untuk menjaga dan mendidik nafsu berdasarkan tuntunan dari Agama. Tinggal kita sebagai manusia ingin mencari, mempelajari dan mengamalkannya atau tidak?, agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak baik lagi hina, akibat kesalahan diri sendiri. Sebagaimana syair Imam Busyairi dalam menggambarkan nafsu sebagai bayi yang harus dididik.

النفس كالطفل إن تهمله شب على    # 

 حب الرضاع وإن تهمله ينفطم    

“Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu. Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri”

Maka manusia itu sendiri yang menentukan keadaan dirinya di dunia maupun akhirat; dalam kemulian (ahsanul at-Taqwim)  atau kehinaan (asfalu as-Saafilin).

 

Oleh: Despian Riki Resno

Bagikan :

Artikel Lainnya

Siap Terima Zakat Fitrah; Rumah ...
  Siap Terima Zakat Fitrah; Rumah Amal Adakan Dauroh Zaka...
Nahdliyin Sasak; Bukti Keberagam...
Nahdliyin Sasak; Bukti Keberagaman dan Kesatuan Masyarakat KM-...
Baru Seumur Jagung, Sanggar Seni...
 Baru Seumur Jagung, Sanggar Seni KM-NTB Meriahkan Acara ...
Menilik Dialektika Peradaban; Se...
Menilik Dialektika Peradaban; Sebuah Proses Pendewasaan. Oleh:...
SEJARAH SINGKAT KODIFIKASI KITAB...
  SEJARAH SINGKAT KODIFIKASI KITAB DALAM USUL FIQIH Oleh:...
Cerpen, Kecemassan Guru Seneng
  Kecemasan Guru Seneng Punggungnya melengkung ketika ia ...

Download App KM-NTB Mesir

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Artikel, Update Informasi KM-NTB Mesir Hanya dalam Genggaman

Hubungi kami di : +201550341221

Kirim email ke kaminusatenggaradanbali@gmail.com

Download App KM-NTB Mesir

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Artikel, Update Informasi KM-NTB Mesir Hanya dalam Genggaman