Wadah berbagi informasi dan eksplorasi pengetahuan para pelajar Nusa Tenggara dan Bali di Mesir

Alasan

by: Alisya Elvina Aristawidya

Welcome suffer, kataku datar. Hampir tak terdengar. Semilir angin sore yang berhembus lebih riuh dari suaraku membuatnya hanya terdengar seperti bisikan halus. Netraku mengarah lurus ke depan. Memandang sekumpulan manusia yang sedang lebar-lebarnya tersenyum dan tertawa, berbisik pada teman di sebelah mereka atau berbincang ria. Mungkin mengenang masa-masa sulit seleksi penerimaan, atau mengisahkan hal-hal baru dengan tema culture shock. Entahlah, pemandangan di depan mencuri perhatianku sampai secercah suara menyentakku halus.

Eyh?” (Apa?)

Via, gadis yang duduk bersebelahan denganku hari ini— tiga tahun lalu saat tes seleksi, juga enam bulan setelah itu di dalam pesawat mengencangkan suara. Rupanya telinga itu perlu kurutuki sedikit karena mendengar ucapan yang sengaja kupelankan beberapa oktaf. Atau persahabatan kami sudah terlalu mendarah daging sampai-sampai ia tahu aku bersuara walau tak lebih kencang dari suara semut hitam di atas batu yang hampir saja ia sepak saat berjalan tadi. Omong-omong tentang semut hitam, itu benar, saat berjalan memasuki taman beberapa jam yang lalu, Via hampir menyepak sebuah batu dengan semut hitam nangkring di atasnya. Entah bagaimana matanya jeli menangkap pemandangan itu lebih dulu, sebelum kakinya berayun dan melayangkan batu bersama semut hitam itu. Dan kau tahu apa yang ia lakukan? Ia memekik heboh, untungnya saat itu taman masih sepi dan aku tak perlu susah payah memikul malu karena sahabatku ini terlalu ekspresif.

“Ya’! Batunya ada semut!” pekikannya berlanjut.

“Emang ada batu kesemutan?!” sahutku sedikit emosi. Bagaimana tidak, aku masih dalam situasi terkejut karena pekikannya barusan, dan Via malah lanjut menghebohkanku dengan menggoyangkan lenganku sambil menunjuk batu kecil di tengah jalan yang hampir ia tendang. Persis seperti bocah lima tahun yang melihat abang penjaja mainan dengan teriakan khas “Sayang anak-sayang anak!” lalu menunjuk salah satu boneka barbie sambil menggoyang lengan ibunya meminta dibelikan satu. Via bisa menjadi sekanak-kanakan dan seheboh itu, dan aku bisa menjadi selemot dan setak nyambung itu. Tanpa mempedulikan tanggapanku, Via bergegas mengambil batu itu dan memindahkannya ke area rerumputan di dekat semak.

“Udah aman,” katanya ceria dengan senyuman yang hampir menelan kedua mata sipitnya saat ia kembali dari misi penyelamatannya. Jempolnya teracung. Aku mendesah, memutar bola mata jengah.

“Udah? Aman semutnya?” tanyaku dengan nada malas, pura-pura peduli dengan sisa rasa dongkol karena rasa terkejutku tadi. Via mengangguk, lalu kembali menyelipkan lengannya di bawah lenganku dan kami berjalan bersisian seperti kembar siam sampai titik kumpul.

Itu adalah kejadian beberapa jam lalu. Sekarang, suaranya memang tak lagi mengejutkanku, tapi sedikit menyentak sadarku saat memandang lingkaran manusia di depan sana.

“Apa?! Tadi kamu bilang apa?”

Via mengulangi pertanyaan, tapi aku masih bergeming. Taman amat ramai sekarang. Ada satu lingkaran besar beberapa meter di depan kami, diisi para mahasiswa baru kedatangan 2021 yang sedang menjalani orientasi. Duduk dengan jarak sekitar tiga setengah meter sebagai pemisah antara  laki-laki dan perempuan. Jadi sebenarnya alih-alih terlihat seperti lingkaran, kumpulan itu lebih mirip huruf c besar yang hampir menutup. Tiga tahun yang lalu, kami yang duduk disana. Masih lugu, masih buta dengan keadaan kota Kairo dan lingkungannya. Lalu setelah opening speech dari gubernur—sebutan bagi pemangku jabatan tertinggi di komunitas yang dibentuk berdasarkan daerah asal—satu persatu dari kami berdiri, memperkenalkan diri. Tak terasa sekarang aku duduk di pinggiran, menyaksikan lingkaran baru di depan sana. Sudah tak lagi junior.

“Yanhar iswid!” Via mengutuk dalam dialek Mesir—tapi tetap beraksen Indonesia—karena pertanyaannya yang tak kupedulikan.

“Ulti eyh? Ma’leisy musy sam’aana,” (Kamu bilang apa? Maaf gak denger) aku berdalih, pura-pura tak mendengar. Via mendengus keras-keras.

“Gak denger apa sengaja budeg, Bun?!” aku terkekeh mendengarnya, raut wajahnya dibuat-buat sarkastik, dengan kedua matanya yang nyalang memandangku.

“Aku tadi bilang, ‘kamu cantik hari ini’,” jawabku asal dengan senyum yang kemudian ia rutuki.

“Halah! Udah kebal sama bulsit buaya aku, Ya’,” Semburnya sambil membuang muka sembarang. Kali ini aku tertawa ringan, mengingat sepak terjang seorang Via dalam kisah cintanya, sementara ia membuang muka ke depan. Ditambah lagi dengan sematan bullshit yg sengaja ia baca apa adanya menambah kesan dramatis yang memang tak akan pernah hilang dari sosok Via.

“Tadi aku cuma bilang ‘welcome suffer’, Vi,” aku akhirnya menyerah. Tak lagi berani menutupi sesuatu dari Via setelah aksi buang muka. Seolah ia tak lagi peduli.

“Kamu anggap mereka suffer?” tanya Via, memaksudkan para mahasiswa baru yang sekarang terbagi dalam lingkaran-lingkaran yang lebih kecil. Mereka baru saja selesai memperkenalkan diri dan membagi kelompok, sekarang tiap kelompok sedang berdiskusi menyusun yel-yel.

“Nggak. Bukan mereka, Vi. Maksud aku, apa yang bakalan mereka hadapi.”

Wel-come suf-fer, selamat datang penderitaan,” Via mengeja tiap kata sebelum menerjemahnya. Bola matanya bergerak-gerak seperti gerakan saat seseorang sedang fokus menghitung hasil penjumlahan dalam pikirannya tanpa merasa perlu menuliskannya di kertas.

“Gini,” aku memulai. Menghentikan gerakan bola mata Via dan analisis kata yang sedang dilakukan otaknya. Via mengalihkan pandangan padaku.

“Udah ngerasain, kan, gimana tiga tahun di sini?” Via mengangguk sebagai respon atas pertanyaanku.

“Rentang pengalaman itu yang aku maksud penderitaan,” Jelasku singkat. Via mengangguk lagi tanda paham. Lalu, untuk beberapa menit saat setiap kelompok menggaungkan yel-yel masing-masing aku dan Via sama-sama tak bersuara. Sibuk memperhatikan ke depan. Saat semua orang sedang sibuk bermain games, Via tiba-tiba bersuara.

“Ya’, jangan dianggap beban, ya,” aku sedikit terkejut kenapa ia tiba-tiba berkata begitu. Namun, aku memilih tersenyum menatapnya. Via mungkin manusia paling menyebalkan karena tingkah laku ajaibnya yang tak jarang membuatku menahan malu di depan umum, tapi ia adalah orang paling perasa, sesamar apa pun suara yang keluar, bisa saja menjadi kode baginya untuk tahu bahwa aku mungkin sedang tidak baik-baik saja.

“Apaan sih, Vi. Cuma bercandaan doang kali kata-kata tadi,” aku mencoba berdalih lagi. Via mendesah. Kutebak ia sudah tahu, masih ada hal yang kututupi.

C’mon,” ujarnya lembut. Ia yang semula duduk bersila menghadap depan, kini mengubah posisi. Seluruh badannya ia hadapkan ke arahku,

Fi eyh? (Ada apa ?) netranya lekat memandangku, menuntut jawaban.

Aku mendesah, memandang sejenak ke bawah—mengokohkan pendirianku untuk menyimpan semuanya sendiri—lalu ke arah sekumpulan manusia di depan sana. Riuh teriakan mereka terdengar dari tempatku duduk, juga tepukan tangan saat melihat paku milik kelompok mereka nyaris masuk ke dalam botol. Aku balik menatap Via, pandangan kami beradu, sebelah alisnya ia naikkan. Pertanda, bahwa ia semakin menuntut jawaban.

 “Kita dulu gak tahu, ya, kalau hidup di luar ternyata sekeras ini. Dulu, yang kita bayangin kebanyakan ya enak-enaknya aja,” Via mendengarkan.

“Aku gak tahu, Vi. Mereka nyampe sini karena dorongan apa. Dorongan dari diri sendiri, kah? Orang tua, kah? Guru, kah? Sekedar ikut teman, atau yang aku harepin, mereka disini karena udah tahu jelas apa yang pengen mereka kejar, fann ilmu apa yang akan mereka dalami. Nggak kayak aku.”

“Kayak kita,” Via mengoreksi. Aku merunduk sejenak, kembali memandangi rumput-rumput sekitar kakiku yang tampaknya baru dipangkas. Mengingat lagi momen dimana aku akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Kairo. Momen berat penuh pertimbangan tak matang yang kubuat berdasarkan kelabilanku, ditambah ketidaktahuan orang tuaku tentang ke mana seharusnya aku melangkah mendalami passion-ku. Aku tak menyalahkan ketidaktahuan mereka, tidak akan pernah. Mereka hanya berusaha mendukungku, mendukung secara mental dan finansial segala keputusan dan keinginanku. Aku tak menyalahkan mereka karena tak benar-benar mengarahkanku pada jalan tanpa rasa menyerah atau keinginan untuk kembali. Setelah semua ini, setelah aku sampai di titik ini, aku hanya tak bisa lagi membendung rasa bersalahku pada mereka. Pada kegagalanku mencapai target-targetku setelah tiga tahun lebih. Pada harapan-harapan yang rasanya dekat sekali dengan kepupusan. Pada ekspektasi-ekspektasi yang sekarang menyesakkan karena tak menjamah kenyataan. Via tak melanjutkan kalimat pendeknya. Dia ikut diam, sekarang ia malah menambah rasa bersalahku. Tak hanya pada orang tuaku, sekarang juga padanya. Via memutuskan untuk kuliah disini karena pengaruhku, karena ajakanku.

“Maaf ya, Vi. Kamu ikut keseret di lingkaran suffer ini tiga tahun lebih karena ajakan aku,” Via menggeleng. Atmosfer sendu diantara kami kontras sekali dengan kecerian dan riuh tawa di depan.

“Apaan sih, Ya’. Aku di sini bukan salah kamu kali. Aku disini, ya, karena ini pilihan aku. Aku justru makasih banget. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku, karena ajakan kamu, aku ngerasa punya pilihan sendiri. Dan dulu, kamu yang support aku sampe aku ngutarain pendapat ke orang tua aku. Jadi, makasih. Makasih banget. Aku nggak ngerasa suffer, kok, di sini,” entah Via memang sedang berkata jujur atau hanya sekedar meredakan rasa bersalahku. Aku tak bisa memilah keduanya sampai Via melanjutkan.

Stop blaming yourself, Ya’. Aku dulu ke mana-kemana selalu karena permintaan orang tua. Kamu tahu sendiri, sekolah di sini, lanjutin di sana, semua karena keputusan mereka. Aku bahkan pernah ngerasa gak kenal apa itu memilih,” Via mengambil jeda sejenak. “Sorry, ya, dramatis banget kata-kata aku,” aku terkekeh mendengarnya. Riuh di depan mulai berkurang, suasana senja dengan lembayung di horizon sana terlukis dengan sempurna. Elegan sekali dengan hiasan bangunan-bangunan apartemen dan Masjid Ali Pasha yang berdiri gagah, menambah indah bayangan hitam reliku kota Kairo.

“Ya’, jalan setiap orang udah ada yang nentuin. Aku, kamu, kita semua di sini karena alasan,” Via beralih memandang keramaian di depan. “Gak ada yang punya kuasa memengaruhi, gak ada yang bisa disalahkan atas jalan yang kita tempuh sekarang. Nggak kita sendiri, orang tua kita, atau lingkungan sekitar. Kita di jalan ini, ya, karena emang garis yang harus kita tempuh untuk sampai finish line itu lewat sini, no other way.

“Tapi berat, ya, ekspektasi orang-orang di rumah, ekspektasi masyarakat, sandangan gelar, semua gak akan mau ngasih kita pemakluman atas hal-hal yang belum kita kuasai. Nanti waktu pulang, kita seolah udah harus bisa mengatasi semua persoalan umat, padahal kita cuma punya lima tahun di sini. Gak cukup sama sekali untuk bekal jadi seseorang yang duduk dan jawab semua permasalahan yang disodorkan dan—“

“Ya’, tugas kita usaha, tugas kita belajar sebisa kita, emangnya siapa bilang kita harus udah faqih setelah lima tahun disini? Bukannya kamu sendiri yang dulu bilang kita ke sini untuk hilangin kebodohan? Ya kalo belum mampu menghilangkan kebodohan dari orang lain, setidaknya dari diri kita sendiri,” Via mengambil jeda sejenak. Memberikanku waktu untuk mengingat kembali kata-kataku sendiri yang sekarang menjadi bumerang untukku.

“Jangan terlalu menyalahkan diri, ya. Jangan terlalu jadiin beban juga. Kita masih punya dua tahun di sini. Aku tahu, itu gak cukup untuk selesaiin semua tujuan, tapi setidaknya ada yang kita selesaikan. Banggalah karena usaha kita, Ya’, bukan hasil. Lagian, jalan mana pun yang ditempuh, tetap akan ada tanjakan dan turunan, kan? Tetap akan ada titik dimana kita mungkin akan ngerasa berat, capek, sampai mungkin kita ngerasa pengen balik aja, pengen beralih ke yang lain aja dan ngecewain orang-orang yang doain kita dari jauh, yang support kita walaupun kita gak sadar. Padahal jalan yang lain itu belum tentu lebih baik, belum tentu bebas dari rasa berat dan sulutan untuk putus asa. Karena hakikatnya kan pilihan itu sama aja, Ya’, selalu punya konsekuensi.”

“Jujur, Vi, kadang aku masih bingung, kenapa dulu aku milih tempat ini. Kamu sendiri tahu disini bukan passion aku, dan sampe sekarang pun rasanya aku masih ngeraba alasan aku masih stay di sini sampe sekarang. Malu juga kadang sama diri sendiri, sama orang-orang terdekat. Dulu aku yang keukeuh milih tempat ini, eh sekarang malah ngerasa astray, tayehah (tersesat) gak keruan. Terus, aku juga yang selalu dengan diplomatisnya gaungin kata semangat, nyemangatin orang lain padahal dengan itu aku malah jadi kayak orang yang bagi-bagiin sesuatu yang aku sendiri gak punya, aku ngerasa kayak ngasih seabrek bullshit tentang semangat yang ternyata aku sendiri gak bisa praktekkan sepenuhnya.Via tak langsung merespon, beberapa detik ia habiskan untuk mencerna semua fakta yang mungkin mengejutkannya. Tapi terlepas dari semua itu aku merasa lega karena berhasil mengeluarkan unek-unek yang selama ini kupendam sendirian. Kutolehkan kepalaku ke samping, tempat Via sedari tadi diam mendengarkan. Aku menangkap binar terkejut dalam netranya, juga iba dan prihatin.

“Ya’,” Tak lagi hanya sebatas bertukar kata, tangan Via kini bertengger di lengan atasku, nyaris menyentuh pundak. “Kamu gak perlu ngerasa malu, semua orang punya ups and downs-nya masing-masing. Semua orang bisa lupa, dan tugas aku disini  mengingatkan kalau-kalau kamu lupa. Semua orang yang sering menyemangati gak harus selalu semangat, ada kalanya dia butuh orang yang dulu dia semangatin untuk menyemangati dia balik. Gak semua orang selalu bisa nemuin alasan dengan sendirinya. Kamu mungkin bingung, kamu mungkin ngerasa di sini bukan passion kamu, tapi percaya, deh. Ketika alasan kamu disini bukan karena passion kamu atau cita-cita kamu, bisa jadi alasan kamu disini adalah orang-orang di rumah kamu, masyarakat, atau lingkungan yang membutuhkan. Allah jadikan mereka alasan kenapa kamu disini ,Ya’.”

Aku diam. Via benar. Alasannya mungkin memang bukan pada diriku, namun pada orang-orang nun jauh di sana yang nantinya membutuhkanku. Namun, tetap saja rasanya berat, apalagi setelah tahu bahwa alasanku di sini adalah demi kepentingan orang lain, bukan kepentinganku. Manusia memiliki ego dan sekarang egoku terasa sekali mendominasi.

But why me, Vi?” aku butuh sebuah pembelaan untuk hal yang sedang berputar di kepalaku. Aku butuh pembenaran, bahwa aku boleh mementingkan diriku sendiri.

“Kamu ragu sama kapabilitas kamu sendiri, itu artinya kamu ragu sama pilihan Allah. Allah, kan, yang udah pilih kamu untuk lewatin jalan ini. Lagipula berada di suatu posisi dimana kita menjalani sesuatu karena kebutuhan orang lain atau kepentingan orang banyak itu menurutku adalah cara Allah untuk mudahin kita jadi sosok yang bermanfaat untuk orang lain. As result itu adalah cara Allah untuk jadiin kita sebaik-baik manusia. Khoirunnas anfa'uhum linnas. Ya kan?,” jawaban Via bukan seperti yang kuharapkan. Namun, lebih dari cukup untuk membuatku beristighfar. Tak sepatutnya aku mempertanyakan itu.

Via tersenyum, tangannya kini menepuk pelan pundakku, “Sans, Ya’. Kita semua sama. Sama-sama nanggung ekspektasi orang rumah dan tanggung jawab untuk berusaha sebisa mungkin agar pulang dalam keadaan baik, bukan mengecewakan. Kamu gak sendiri, kok, we go through it together. Dan tambahan lagi, Allah gak akan biarin kita lewati jalan ini sendiri. We’ve got Him with us.

Aku tersenyum tenang mendengarnya, gejolak batinku mulai redup, mulai surut. Apa yang dia katakan benar. Tak selamanya diri kita pribadi yang menjadi alasan atas jalan yang kita lalui. Toh, pada prakteknya kita tak melaluinya sendirian. We go through it together. We’ve got Him with us. Aku ingat seseorang pernah menulis bahwa yang ditakuti manusia bukanlah hal-hal menyeramkan di depannya, tapi bila harus melewati itu semua sendirian. Bukankah ketika harus melewati hutan rimba penuh hewan buas kita takut setengah mati? Namun, bagaimana jika kita tetap melewati hutan rimba itu bersama seorang pemburu terbaik di dunia? Rasa tenang tentu akan mengiringi. Itu yang baru saja Via ingatkan. Bahwa semuanya mungkin berat, tapi aku tak sendiri. Tak pernah sendiri melewati semua ini.

 "Lagian kita hidup paling lama rata-rata berapa tahun sih Ya' ? Mungkin 60-an 70-an, gak lama-lama banget kan kalo dibandingin umat-umat terdahulu. Bahkan bisa jadi lebih pendek dari itu. Jadi bisa gak bisa, mampu gak mampu, hal utama yang kita harus usahain itu ikhlas. Entah itu kita sekarang jalanin takdir kita untuk kepentingan orang lain atau diri sendiri, selama ini adalah pilihan Allah, menurutku yang harus kita perjuangin itu keikhlasan menjalaninya karena ya kita tahu ikhlas itu kunci ridha Allah. Dan ridha Allah itu tujuan kita ngejalanin semua ini, ngelakuin semua perintah dan larangan," Via menambahkan.

"Caranya ikhlas?"

"Sabar, jalani tapi tetep usaha ngasih yang terbaik semampu kita dan tetep husnuzon kalo Allah lagi nguji kita supaya kita capek dulu sekarang jadi nanti waktu pulang ke Dia kita bisa tahu nikmatnya istirahat. Orang kalo gak capek mana tau enaknya istirahat."

"Satu lagi Ya', Allah gak nimpain seorang mukmin dengan suatu cobaan entah itu psikis kayak sedih, kalut, ngerasa terbebani, stress, gak tenang atau fisik kayak ketusuk duri atau luka melainkan karena Allah mau gugurin dosanya kalo dia sabar, ikhlas nerima ketentuan dan husnuzon kalo Allah ngasi dia ngerasain semua hal gak enak itu karena tujuan baikNya, demi kemaslahatan hambaNya."

Percakapan kami berakhir saat salah satu panitia orientasi memanggil Via untuk menggantikannya sejenak mengawal berjalannya games. Aku masih duduk di tempat, menyaksikan keseruan di depanku dan berusaha merilekskan pikiran, membiarkannya penuh dengan atmosfer ceria di sekitar sembari mengulang-ulang kalimat Via,

Ikhlas. Orang kalo gak capek, mana tau enaknya istirahat. Allah mau gugurin dosanya kalo dia sabar, ikhlas nerima ketentuan. Semua hal gak enak itu karena tujuan baik-Nya, demi kemaslahatan hamba-Nya.

 

Posting Komentar

0 Komentar