Wadah berbagi informasi dan eksplorasi pengetahuan para pelajar Nusa Tenggara dan Bali di Mesir

RESUME KAJIAN 3 KITAB FATAWANNISA SYAIKH ALI JUM’AH

 


Keputrian KMNTB Mesir mulai mengadakan program perdananya yaitu kajian fatawannisa karangan syaikh ali jum’ah dengan pemateri Ustadzah Wayan Faradisa, Lc. Diplom (mahasiswi )Pascasrjana Jurusan Syariah Islmiyah). Pada kajian kali ini pemateri membahas bab yang berkaitan dengan thaharah, dimulai dengan pasal kedua tentang mandi dan hal-hal yang mewajibkannya, kemudian pasal ketiga tentang haid serta hukum-hukumnya dan diakhiri dengan pasal keempat tentang nifas serta hukum-hukumnya.

                Ia memulai kalamnya dengan memaparkan apa isi kitab fatawannisa.”Kitab ini adalah kitab yang membahas fiqih anita berbentuk tanya jawab tentang fatwa-fatwa seputar permasalah wanita, yang dimana dia akan menjadi istri, dan ibu sholihah dalam memahami agama”.

                Masuk kedalam pembahasan kitab, ia langsung memulai pembahasan bab thaharah. Pada kajian ini ustdazah Wayan membahas 5 pertanyaan seputar mandi, 11 pertanyaan seputar haid, dan 2 pertanyaan seputar nifas. Pasal kedua seputar mandi dan segala yang mewajibkannya :

 pertama mandi haid dan mandi junub

pertanyaan:

apakah mandi untuk haid itu sama dengan mandi janabah dan bagaimana cara melakukannya ?

jawaban :

1.       Mandi dengan niat untuk bersuci dari haid sama dengan mandi yang diniatkan untuk junub.

2.       Cara pelaksanaannya cukup dengan berniat kemudian mengguyur tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan air mengalir (wajib). Adapun orang yang menenggelamkan tubuhnya dalam kolam atau bathup, atau orang yang berdiri dibawah shower maka sudah dianggap sah mandinya.

3.       Cara diatas belum termasuk pelaksanaan mandi dengan segala sunnahnya. Adapun mandi untuk haid atau junub disertai dengan segala sunnahnya yaitu dengan berwudhu terlebih dahulu, kemudian berwudhu, mendahulukan mengguyur seluruh annggota tubuh bagian kanan, lalu mengguyur anggota tubuh bagian kiri.

4.       Terdapat dua pendapat tentang bagaimana meakhiri mandi untuk haid atau junub yaitu pertama sudah cukup dengan mandi itu sendiri tanpa harus diakhiri dengan wudhu . sedangkan yang kedua (pendapat as syafiiah) mengatakan harus diakhiri dengan berwudhu karena menyentuh kemaluan dalam mazhab imam syafii membatalkan wudhu.

Pertanyaan kedua tentang menyela-nyela rambut dengan air ketikan mandi.

Pertanyaan:

Apakah menyela-nyela rambut dengan air ketika mandi untuk junub karena sakit sebagai ganti dari mengguyur rambut secara keseluruhan lalu saya mandi kemudian saya tidur atau saya mandi kemudian saya keluar untuk bekerja?

Jawaban :

1.       dalam mandi untuk janabah diwajibkan mengguyur tubuh dengan air sampai pada akar rambut bukan dengan mengusap rambut dan tidak ada larangan untuk menyela-nyela dengan air asalkan orang tersebut yakin bahwa airnya sampai pada akar-akar rambut.

2.       Adapun meyela-nyela rambut tanpa disertai dengan mandi tidak bisa mengangkat najis.

Pertanyaan ketiga: Memotong rambut untuk mempermudah mandi.

Pertanyaan:

Ibu sudah mengidap sebuah penyakit selama 15 tahun dan rambut beliau sangat panjang, beliau tidak bisa mandi kecuali jika saya ada disisi beliau sehingga sayalah yang mencuci rambut beliau, maka apakah memotong rambut itu haram atau halal? Dan apakan mungkin bagi saya memotong rambut beliau agar beliau mampu mandi sendiri?

Jawaban:

1.       Memotong rambut dibagi menjadi 2 yaitu memendekkan rambut dan menggundul habis rambut Memotong rambut tidak haram bagi wanita tetapi yang haram bagi wanita adalah menggundulkan rambutnya.

2.       Menggundulkan kepala diperbolehkan bagi wanita apabila diserta dengan alasan-alasan yang kuat seperti untuk alasan kesehatan dll.

Mencuci baju yang najis

Pertanyaan :

Apakah boleh mencuci baju yang najis dengan darah haid setelah mandi ?

Jawaban :

1.       Boleh mencuci baju yang najis dengan darah haid setelah mandi dan tidak perlu mengulang mandi tersebut. Jika memang najis tersebut mengenai tangan maka cukup dengan mencuci tangan tanpa mengulang mandi.

Sholat dan mandi

Pertanyaan :

Jika saya berada diluar rumah pada suatu waktu sampai lewat waktu sholat lebih dari satu sholat, apakah saya sholat atau saya harus menuggu setelah mandi terlebih dahulu? Dan apakah ini termasuk kewajiban yang harus diganti dilain waktu?

Jawaban :

1.       Jika seorang muslim atau muslimah melewati lebih dari satu sholat fardhu, wajib baginya mengganti sholat yang dia tinggalkan.

PASAL KETIGA : HUKUM-HUKUM HAID

Memasuki masjid bagi wanita yang haid

Pertanyaan :

Apakah hukum memasuki masjid bagi wanita yang haid, orang yang junub dan bagi nonmuslim ?

Jawaban :

1.        wanita haid dan orang yang junub dilarang untuk memasuki masjid kecuali hanya sekedar transit tanpa berdiam diri dimasjid. Namun hukum ini sudah ada pada masa dimana pembalut masih menggunakan kain biasa, sehingga masih sangat mungkin bocor. Namun pembalut-pembalut masa kini sudah terbuat dari bahan tidak tembus cairan kecuali dalam beberap kasus seperti pemakaian yang kurang tepat atau mungkin darah yang terlalu deras, sehingga kembali hukumnya dikembalikan kepada wanita yang bersangkutan. Jika yang bersangkutan yakin tidak akan bocor karena darah yang sudah tidak terlalu deras, maka diperbolehkan untuk memasuki masjid.sedangkan apabila yang bersangkutan ragu karena derasnya darah maka lebih baik dihindari untuk memasuki masjid.

2.       Hukum memasuki masjid bagi orang nonmuslim itu boleh. Karena mungkin saja, memasuki masjid bagi nonmuslim bisa menjadi washilah dia memeluk agama islam.

Pertanyaan :

Apakah boleh bagi wanita yang haid memasuki masjid untuk mneghadiri pesta pernikahan sudaranya?

Jawaban :

1.       Tidak diperbolehkan bagi wanita yang haid memasuki masjid untuk menghadiri    pernikahan saudaranya, karena haid dan janabah sama, sedangkan haid merupakan larangan yang lebih besar daripada janabah. Kecuali di dalam masjid tersebut terdapat tempat khusus seperti aula atau taman ,maka diperbolehkan bagi wanita yang haid untuk menghadir pesta pernikahan saudaranya sedangkan dia berdiam diri di aula atau ditaman.

Jima’ dan haid

Pertanyaan :

Apakah hukumnya bagi seorang laki-laki yang manjima’ istrinya katika saang istri sedang haid ? dan apakah baginya kafarah? Dan apakah hukum bagi seorang laki-laki yang menjima’ istri sedangkan istrinya belum mandi untuk bersuci dari haid?

Jawaban :

1.       Hukum suami yang menjima’ istrinya ketika haid adalah haram, dan wajib baginya bertaubat dengan cara menyesali perbuatannya serta berjanji tidak akan kembali melakukan dosa tersebut.

2.       Bagi laki-laki yang menjima’ istrinya ketika haid dikenakan kafarah, berupa satu dinar yang setara dengan emas empat seperempat gram emas dua puluh satu karat. Inilah takaran kafarah pada zaman nabi SAW. Namun dalam riwayat lain dikatakan bahwa kafarah bagi laki-laki yang menjima istri ketika haid adalah setengah dinar saja. Maka dari ini para ulama’ fiqh mengumpulkan dua perkara ini yaitu jika jima’ itu dilakukan  di awal haid maka baginya kafarah sebesar satu dinar. Sedangkan bagi yang berjima diakhir masa haid maka baginya kafarah sebesar setengah dinar saja, disebabkan karena panjangnya masa haid tersebut.

3.        laki-laki dilarang menjima’ istri setelah berhentinya darah namun sang istri belum melaksanakan mandi wajib. Diwajibkan untuk bertaubat tanpa membayar kafarah karena tingkatan ma’siat untuk hal ini lebih ringan dan ma’siat ini merupakan salah satu keharaman tanpa kafarah.

Sesuatu  yang keluar dari kemaluan perempuan diluar kebiasaan

Pertanyaan :

Apakah hukum darah yang keluar diluar waktu kebiasaan , dan apakah hukum sholat yang dikerjan pada masa ini?

Jawaban :

1.       Darah yang keluar dari kemaluan perempuan diluar waktu kebiasan, selagi darah tersebut keluar bukan pada waktu suci antara2 haid (minimal 15 hari) atau jika si wanita memiliki kebiasaan haid 5 hari, kemudian suatu waktu di hari keenam darah wanita ini tetap keluar maka darah ini masih dihukumi darah haid. Dan masih terus dihukumi darah haid sampai mencapai waktu maksimal haid( 15 hari). Walaupun yang Nampak hanya bercaknya selagi darah ini belum melampaui batas maksimal haid maka hukumnya tetap darah haid

2.       Darah haid memiliki banyak tingkat warna. Mulai dari yang pekat, merah segar, coklat dan kuning.

3.       Tanda berakhirnya masa haid adalah keluarnya sesuatu berwarna putih kapur dari kemaluan wanita.

4.       Selama darah yang keluar dari kemaluan wanita ini keluar tidak dalam masa suci yaitu 15 hari antara 2 haid dan tidak melampaui masa maksimal haid yang 15 hari ,maka masih dihukumi darah haid. Begitupila bagi wanita tersebut dilarang sholat, puasa, berhubungan suami istri dll.

Haid dan sholat

Pertanyaan :

1.       Apakah hukum wanita yang haid setelah masuk waktu sholat dan apakah wajib bagi dia mengganti sholatnya, dan kapan waktunya?

jawaban :

1.       Barang siapa yang datang masa haidnya ketika telah masuk waktu sholat kemudian wanita tersebut belum melaksankan sholat pada waktu itu maka wajib baginya mengganti sholat yang dia lewati.

Pertanyaan :

2.       Ketika seorang wanita telah melaksanakan mandi suci sebelum terbitnya matahari apakah wajib baginya mengganti sholat maghrib dan isya’. Begitupula ketika ia telah suci sebelum terbenamnya matahari, apakah wjib baginya mengganti sholat zuhur dan ashar ?

Jawaban:

Jika seorang wanita telah suci sebelum terbenamnya matahari maka wajib baginya mengganti sholat maghrib dan isya. Dan bagi seorang wanita yang telah suci dari haidnya sebelum datang waktu sholat terbitnya matahari maka wajib baginya mengganti sholat zuhur,ashar, maghrib dan isya’.

Pertanyaan :

Telah berhenti darah haidku setelah sholat maghrib atau setelah sholat isya’. ,maka aku mandi untuk bersuci dari haid . apakah wajib bagiku sholat isya’ atau seluruh sholat dalam sehari?

Jawaban :

1.       Maghrib dan isya adalah saudara. Dapat dijama menjadi satu dalam perjalanan yang jauh. Maka jika dia ( wanita tersebut) mandi suci pada waktu magrib maka wajib baginya melaksankan sholat magrib dan isya’. Begitu pula sebaliknya.

2.       Begitu pula sholat ashar dan sholat zuhur.

Pertanyaan :

Saya menunggu kebiasaan (datang bulan) bulanan saya, itu sebabnya saya tidak sholat isya dan sholat subuh tetapi saya sadar bahwa kebiasaan bulanan saya belum terjadi. Apakah wajib bagi saya mandi terlebih dahulu sebelum saya melaksnakan sholat, dan apakah bagi saya mengganti sholat yang sudah saya tinggalkan?dan apakah bagi saya tanggungan atas sholat yang telah berlalu?

Jawaban :

1.       Jika kebiasaan bulanan (haid) belum datang maka tidak diwajibkan baginya mandi untuk bersuci dari haid.

2.       Wajib mengganti sholat yang ditinggalkan karena menunggu datangnya kebiasaan bulanan

3.       Tidak ada tanggungan untuk sholat yang telah ditinggalkan

Pertanyaan :

Kebiasan bulanan saya sudah jelas waktunya yaitu 4 sampai 5 hari. Tetapi seringkali masa haid ini terus berlanjut sampai 15 hari , maka kapan waktu wajib  saya bisa melaksanakan sholat atau ibadah-ibadah  lainnya?

Jawaban :

1.       Selama masa haidnya masih berlanjut sampai batas maksimal haid yaitu 15 hari maka masih diharamkan untuk melaksanakan sholat, puasa, dll. walaupun darah yang keluar hanya sedikit

2.       Jika masanya lebih dari 15 hari maka mandilah kemudian sholat, puasa dll.

Hukum kebiasan haid yang tidak teratur

Pertanyaan :

Saya seorang wanita umur saya 27 tahun. Dahulu kebiasaan haid saya datang secara  berarturan namun setelah saya melahirkan kebiasaan haid ini tidak lagi beraturan, sehingga masa haid ini masih terus berlanjut sampai hari keenam dan ketika saya sudah yakin bahwa saya sudah suci saya melihat air yang bercampur dengan warna merah satu atau dua kali dalam sehari dan  dalam dan dalm beberapa hari air ini tidak lagi keluar. Dan saya masih terus melihat air ini sampai hari ke -10 atau hari ke -12. Maka apakah hukum hari-hari ini dari sisi kesucian dan hubungan saya dengan suami?

Jawaban : 

1.       Apa yang dilihat oleh wanita yang bertanya tetap dihukumi darah haid jadi masih diharamkan baginya sholat, puasa, hubungan suami istri dll.

2.       Cara memeriksa apakah masa haid sudah berhenti atau tidak dengan menggunakan kapas yang dimasukkan kedalam kemaluan wanita.

3.       Tanda berhentinya masa haid adalah keluarnya cairan berwarna putih kapur. Jika hal yang keluar dari kemaluan wanita masih bercampur dengan warna kuning, coklat, atau merah muda maka masih dihitung darah haid.

Berhubungan suami istri ketika haid.

Pertanyaan :

Apakah boleh bagi seorang suami berhubungan dengan istrinya pada mas haid?

Jawaban :

1.       Selagi hubungan suami istri ini bukan jima’ maka diperbolehkan

2.       Haram hukumnya menjima’ istri melalu pantat.

PASAL KEEMPAT : HUKUM-HUKUM NIFAS

Pertanyaan :

Jika darah haid sudah berhenti sebelum 40 hari, apakah boleh melaksanakan sholat dan puasa?dan apakah boleh berhubungan suami istri?

Jawaban :

1.       Jika darah nifas sudah tidak lagi keluar sebelum 40 hari maka wajib bagi wanita ini mandi untuk bersuci dari nifas dan sudah diperbolehkan bagi dia melaksanakan sholat, puasa, hubungan suami istri dll.

2.       Tidak ada batas minimal untuk nifas. Batas maksimal 60 hari dan kebanyakan terjadi selama 40 hari.

Pertanyaan :

Istri saya melahirkan sejak 40 hari yang lalu dan dari hari ke 37 darah tidak lagi keluar, yang keluar justru air berwarna. Pada hari ke-39 dan hari ke-40 keluar air yang berwana merah. Kemudian pada hari ke 41 mulai keluar darah yang berwarna merah segar. Maka berapakah batas maksimal nifas? Dan apakah istri saya boleh berpuasa dan sholat atau tidak?

Jawaban :

1.       Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita karena sebab melahirkan

2.       Batas maksimal nifas 60 hari , kebanyakan terjadi 40 hari.

3.       Dalam kasus si penanya ini maka sang istri masih dilarang untuk sholat, berpuasa, hubungan suami istri dll.

Untuk kajian yang akan datang akan membahas tentang sholat . kajian kali ini ditutup dengan menbaca sholawat syafiiah dan doa kafaratul majelis.


Redaktur: Intania CAhyanti Utama

Posting Komentar

0 Komentar